Kuliah Umum Program Magister KPI UIN SUKA dan Magister KPI UIN SAIZU Purwokerto
Foto Bersama Narasumber
Yogyakarta – Dalam rangka mengimplementasikan kerjasama antara program studi magister KPI UIN sunan Kalijaga Yogyakarta dan program studi magister KPI UIN Saizu Purwokerto Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar kuliah umum bertajuk “Komunikasi Humanis: Membedah Kekerasan di Media” dengan menghadirkan Ketua Program Studi Magister KPI UIN SAIZUProf. Dr. Hj. Khusnul Khotimah, M.Ag. sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, Prof. Khusnul Khotimah mengajak mahasiswa untuk melihat fenomena kekerasan di media secara kritis. Menurutnya, media memiliki peran besar dalam membentuk persepsi masyarakat sehingga praktik komunikasi yang humanis perlu terus dikedepankan di tengah derasnya arus informasi digital.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan pengembangan Lembaga FDK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Pajar, menyampaikan bahwa efektivitas pesan di era digital sangat bergantung pada bagaimana cara komunikator mengemas keunikan serta kejujuran pesan itu sendiri. Ia mengingatkan mahasiswa mengenai kompleksitas wacana siber yang kerap kali dimanipulasi oleh kepentingan tertentu melalui strategi pembingkaian.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah satu peserta, Zuvan dari Magelang, menanyakan alasan mengapa isu-isu kekerasan di media sosial sering kali lebih cepat viral dibandingkan konten positif. Menanggapi hal tersebut, Prof. Khusnul menjelaskan bahwa topik yang bernuansa negatif cenderung lebih menarik perhatian publik. Ia menilai perempuan dan anak-anak sering menjadi objek yang dianggap “menjual” sehingga kerap dijadikan komoditas pemberitaan demi menarik perhatian pasar dan meningkatkan keterlibatan audiens.
Pertanyaan lain disampaikan Muti dari Palu terkait minimnya peluang perempuan di media dan politik serta masih kuatnya budaya patriarki. Menurut Prof. Khusnul, perempuan masih menghadapi standar dan tekanan sosial yang tinggi. Budaya patriarki yang telah mengakar dalam waktu lama kerap dinormalisasi sehingga perempuan sering harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan ruang yang setara. Bahkan, tidak jarang perempuan dinilai lebih berdasarkan penampilan fisik daripada kapasitas intelektualnya.
Sementara itu, Arum dari Cilacap menyoroti pandangan sebagian masyarakat yang menganggap media sosial hanya sebagai sarana pencitraan atau ajang pamer. Menurut Prof. Khusnul, konten positif tetap perlu disebarluaskan karena dapat memberikan inspirasi dan dampak baik bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa banyak orang sebenarnya menyukai kebaikan, meskipun tidak selalu mengungkapkannya secara terbuka. Karena itu, generasi muda perlu berani memulai dan membiasakan diri menyebarkan nilai-nilai positif di ruang digital.
Pada kesempatan yang sama, Yuni, mahasiswa semester empat, menanyakan bagaimana perempuan dapat menjadi pribadi yang berdaya di tengah tekanan sosial dan tingginya standar yang dibebankan kepada mereka. Menjawab hal tersebut, Prof. Khusnul menegaskan bahwa kesetaraan gender berarti laki-laki dan perempuan memiliki hak, akses, dan kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan. Menurutnya, perempuan yang memilih berkarier maupun mengelola rumah tangga sama-sama memiliki nilai, selama keputusan tersebut lahir dari pilihan dan kesadaran diri, bukan karena paksaan atau tekanan sosial.
Kuliah umum ini mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa dan dosen. Selain memperkaya wawasan akademik mengenai kekerasan di media, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi tentang pentingnya membangun komunikasi yang lebih humanis, adil gender, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan di era digital.
Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Dr. Abdul Rozak berharap kegiatan semacam ini dapat mendorong mahasiswa untuk menjadi komunikator yang kritis, beretika, dan mampu berkontribusi dalam menciptakan ekosistem media yang sehat serta ramah terhadap seluruh lapisan masyarakat. Choir.